Showing posts with label Gili Trawangan. Show all posts
Showing posts with label Gili Trawangan. Show all posts

Thursday, May 2, 2013

PESONA GILI TRAWANGAN - CHAPTER II




Perlahan dan pasti kapal mulai meninggalkan dermaga Bangsal. Diperjalanan banyak kapal yang lalu lalang, ya tentu saja kalau bukan ke pulau Gili ya balik ke dermaga Bangsal. Oh ya, sebenarnya akses ke Gili Trawangan tidak cuma bisa melalui Bangsal saja. Seperti kata pepatah “banyak jalan menuju Roma” (nyambung gak sih??). Anda berbagai opsi yang bisa anda pilih, salah satunya misalnya : FASTBOAT – ya, jika anda punya dana lebih dan tidak mau membuang 5 jam waktu anda nongkrong di Ferry ditambah 2 jam lagi perjalanan menuju Bangsal plus 40 menit ke Gili Trawangan, yang jika ditotal adalah 7 jam 40 menit (lama kan??) maka Fastboat bisa menjadi pilihan. Ya namanya juga Fastboat (kapal cepat), lama waktu yang dibutuhkan untuk sampai ke Gili Trawangan adalah antara 1-2.5 jam (cepat kan??). Starting poin adalah Pelabuhan Tanjung Benoa/Padang Bai/Serangan. Harga tiket fastboat berkisar Rp 600,000 – Rp 950,000 per orang one way, yah sebanding dengan fasiliatas yang ditawarkan.Beberapa operator fastboat menawarkan complimentary pick up/drop off dari/ke hotel di Kuta,Sanur,Seminyak atau Nusa Dua. Operator fastboast pertama kali membuka rute ke pulau Gili pada tahun 2005. Operator yang paling pertama dan tertua adalah “Blue Water Express”.
kapal dan penumpang
merapat ke pantai Gili Trawangan





Sekitar 40 menit kemudian kapal mulai merapat ke dermaga Gili Trawangan. Dimana-dimana yang namanya “first time doing/seeing something”yang keren-keren atau sejenisnya pasti selalu ada yang namanya “perasaan girang” tak karuan, nah mungkin seperti itulah saya menggambarkan perasaan saya ketika kaki saya menyentuh air dan menginjakkan kaki di pasir pantai Gili Trawangan. Benar-benar senang luar biasa, apalagi saat berpose di “SELAMAT DATANG –welcome to- DI GILI TRAWANGAN“…wohoho here we are !!!


Gili Trawangan adalah salah satu dari trio pulau yang lebih sering dikenal sebagai “Tiga Gili (Three Gilis)” atau “Kepulauan Gili (Gili Islands) yang terdiri dari “Gili Air, Gili Meno dan Gili Trawangan”. Kata “Gili” berarti “pulau kecil” dalam bahasa Sasak. Dari ke-3 pulau ini Gili Trawangan yang paling besar dengan panjang pulau kurang lebih 3 km dan lebar 2 km, ketinggian 60 m dari permukaan laut. Total populasi sekitar 1500 menurut informasi dari om Wiki. Pulau ini berhasil kami “taklukkan” (kelilingi) dengan bersepeda keesokan harinya.

Did you know

Semasa Perang Dunia II Gili Trawangan di gunakan oleh tentara Jepang sebagai camp tawanan perang  sekaligus “lookout post” untuk mengintai musuh. Bukti kependudukan tentara Jepang adalah dengan ditemukannya bangkai kapal patroli di kedalaman 45m di perairan Gili selatan dan sekarang sudah menjadi “diving spot” yang populer disana. Selain itu saya baru tahu jika ternyata kata “Trawangan” sebenarnya berasal dari kata “ Trowongan” atau “Terowongan”, ya itu karena keberadaan “terowongan” atau “bunker” yang dibuat oleh tentara Jepang diatas bukit di pulau ini (sayang beudd, saya tidak sempat melihat). 

Berdasarkan beberapa sumber, Christopher Columbus (penemu)-nya Gili Trawangan adalah pelayar-pelayar asal Bugis, Mandar dan Makassar (kebetulan saya dari Sulawesi hehe! Penting gak sih??). Yap no wonder, suku-suku ini memang sudah sejak jaman dahulu kala telah terkenal bukan hanya sebagai “pencetak” pelayar-pelayar tangguh nan perkasa tapi juga “pembuat” kapal yang handal. Jadi tak heran jika mereka sampai kesini… Saluttt! Pantessss…, sekilas logat orang-orang disini hampir mirip logat Bugis dan Mandar! Haha..(adakah yg mendukung??)

Tahun 1980, Gili Trawangan mulai ditemukan oleh turis-turis bekpeker. Dan sejak saat itu hingga tahun 1990, pulau ini populer dengan sebutan “Party Island”. 

The unique part dari Gili Trawangan adalah : disini, oleh penduduk lokal tidak diperbolehkan penggunaan kendaraan motor. Maka tak heran jika bukan jalan kaki, pengunjung hanya punya dua opsi kendaraan yaitu : Sepeda dan Cidomo (kereta kuda). Dimana menyewa sepeda? Hampir disemua sudut Gili Trawangan menyediakan sepeda untuk disewa dengan harga sewa mulai dari Rp 15,000 per jam atau Rp 50,000 per 24 jam. Jadi lebih baik menyewa 24 jam saja, lebih murah.
Cidomo yang memuat hanya 1-3 orang dewasa

Sewa sepeda Rp 50,000 per hari sudah termasuk bensin

Nah, setelah puas mengagumi dermaga Gili Trawangan (baru dermaga loh saudara-saudara!!), kami bergegas mencari lokasi FLUSH BUNGALOW untuk check in. Ngomong-ngomong, banyak juga loh sebenarnya wisatawan yang datang ke Gili Trawangan tanpa membooking akomodasi terlebih dahulu. Belakangan saya tahu, ternyata disini banyak “calo” penginapan yang kerjaannya membantu setiap wisatawan mencari penginapan jika kebetulan si wisatawan belum punya penginapan. 

Nah, kami sempat “iseng” dalam hati, harga akomodasi kami di FLUSH BUNGALOW adalah Rp 400,000 net semalem, telah dibooking melalui booking.com dan nomer konfirmasi sudah dipegang. Kami ingin mencoba untuk memanfaatkan jasa “calo” untuk membantu kami mencari alternative hotel lain dengan harga yang jika bisa lebih “miring” dan jika ditemukan, maka kami berencana “No Show” saja di FLUSH BUNGALOW (licik bukan? haha). Namun setelah mencari sana sini, ternyata tidak ada yang menarik hati. Namun dari pencarian ini, saya menemukan fakta bahwa : sebagian besar budget akomodasi (kecuali hotel bintang) di Gili Trawangan ini tak dilengkapi TV,DVD player hanya AC/Fan +mini bar+hot/cold water+wifi. Alasannya, most of foreign tourists do not need/like TV in room. What about domestic tourists?

Eh, btw waktu sudah menunjukkan pukul 1430 loh, kami belum makan. Ngomong-ngomong soal makanan dan minuman, jangan heran jika biaya makan dan minum di pulau ini dua kali lipat dari harga biasa. Itu normal. Contoh : harga juice buah yang normalnya Rp 6000 bisa menjadi Rp 15000 di pulau ini (sekilas info).

Setelah mencari sana sini bersama si calo, akomodasi gak dapet, tapi lemes iya! Secara udah lafar to the max!! Akhirnya, kami memutuskan untuk segera kembali ke plan awal, check in ke FLUSH BUNGALLOW. Dengan segenap tenaga yang tersisa, kami segera mencari lokasi bungalow ini. Ahh there….kami temukan.

Dengan langkah pasti namun gontai, kami memasuki halaman bungalow, sekilas mata saya membaca tulisan pada sebuah papan yang ditancapkan pada sebuah pohon di halaman bungalow ini, disitu tertulis “FULL”. Terbesit sedikit firasat buruk namun tak kutanggapi. Kami disambut oleh seorang bapak, dan alangkah kagetnya diriku saat si bapaknya bilang gini:

 “Mau check in ya? Oh yang atas nama Jeri ya? Waduh maaf mas, kamarnya sudah penuh , ada tamu yang baru check in tadi, kirain mas-nya yang bookingin..”.. 

Blarrr…*kilat menyambar* ..ALAMAK bin BREKELE! What the...? Bookingan kami sudah di rilis dan kamarnya dijual ke orang lain, dengan alasan yang tidak masuk akal,ohhh mayy gotttt!! koq bisa? Padahal kan nama tamu yang ada dikonfirmasi kan jelas-jelas beda??. Disaster just happened !kenapa?kenpa oh kenapa? Hanya dia dan tuhan yang tahu. Apes!

Saya tertunduk lesu sambil memegangi dua lembar kertas konfirmasi reservasi dari booking.com. Sedangkan pacar saya si cece udah kabur aja beli rujak,BeTe to the max!! Karena sudah capek,saya malas ngotot-ngototan sama si bapak, but honestly, I was really pissed!!. Beruntung dia masih punya niat baik untuk memberikan alternatif hotel yang tak jauh dari tempatnya bahkan menawarkan akan membayar selisih harga kamarnya. Tapi kami sudah terlanjur kecewa dan akhirnya menolak dan mencari penginapan lain. Kasus ini resmi dilaporkan ke TripAdvisor. Pelajaran yang bisa diambil dari kasus ini: “segala sesuatu bisa terjadi selama perjalanan, ricek dan rekonfirmasi akomodasi atau tiket transportasi dll adalah sesuatu yang  wajib dilakukan”

Dalam kebingungan dan keputusasaan #hallah , kami ditemukan oleh seorang calo yang  baik hati dan tidak sombong serta rajin menabung namanya “Pak Iful” yang kemudian mempertemukan kami dengan THE GILI T RESORT. Dengan membayar Rp 400,000 resmilah kami mendapatkan kamar untuk hari ini. Legaaaaa…..! Dan lebih senang lagi ketika Pak Iful menawari kami sewa sepeda dengan harga sangat miring Rp 35,000 per sepeda per 24 jam. Akhhh…inilah yang disebut “ berkah di balik musibah” – langsung sujud sambil koprol (gimana coba?).

Sedikit tambahan mengenai “calo” : jangan takut jika suatu saat anda ke Gili Trawangan dan di hampiri calo, sebab kesan pertama saya :  mereka baik dan tidak memaksakan kehendak, tidak seperti calo pada umumnya. Mereka akan mengantar anda untuk melihat-lihat akomodasi atau menawari sepeda untuk disewa dan selanjutnya terserah anda. Ambil tidak ambil, NO PROBLEM! tanpa embel-embel caci maki dibelakang.

Setelah check in dan beristirahat sebentar, kami segera mengeksplorasi Gili Trawangan dengan bersepeda ria…
my cece

wohooo..!

romantis-romatisan pake self-timer
Gak ada barbel, sepeda pun jadi (tema:olahraga)

you can see "Gili Meno island" and mt Rinjani from here...


low tide





Kami belum makan loh saudara-saudara, eh malah sepedaann… Inilah yang disebut sindrom “girang” ampe lupa makan (ngemil iya).  Jangan berharap untuk menemukan warteg atau rumah makan padang di pulau ini kawan. Hanya ada café dan resto at certainly not cheap price. So untuk meg-irit biaya makan kami sepakat untuk menunggu “NIGHT MARKET” yang dibuka jam 7 malem. Di pasar malam mini anda dapat makan lalapan ayam/ikan-ikan laut segar atau makanan traditional lainnya dengan harga yang relative murah. Malam ini kami menikmati 1 ikan bakar pedas + 2 nasi dan 1 aqua gede dengan membayar Rp. 75,000. Kenyangg! 
people are having dinner

lalapan ayam dan tahu tempe

ikan sugeerrrrr...fresh from the ocean

Night Market background

lagi milih-milih ikan

Sekitar pukul 10 malam kami kembali ke hote untuk beristrahat. Tidak ada lagi yang bisa dilakukan di pulau ini kecuali jika anda adalah tipe “partyholic”, maka malam hari bukanlah saat yang tepat untuk tidur.

Minggu 28 April 2013….Hari ini adalah hari terakhir kami di Gili Trawangan. Kami bangun jam 7.30 alias telat sejam dan tiga puluh menit dari rencana. Sebelumnya, kami berencana bangun pukul 6 untuk menikmati sunrise dan berolahraga (sepedaan keliling pulau), apa daya we finally missed the sunrise. Dengan hanya mencuci muka (masih belekan), kami segera mengambil sepeda kami dan mulai mengekplorasi pulau kecil ini. Udara benar-benar segar dipagi hari.
Pukul 8.45 kami tiba kembali di hotel untuk breakfast. Pulau ini dapat dikelilingi dalam waktu kurang lebih sejam dan lumayan menguras keringat, but extremely fun. Kami menikamti breakfast di “Terminal Restaurant” ( nama restaurant Gili T Resort). Menyantap sarapan sambil menikmati pemandangan pantai dan dermaga pagi hari memang benar-benar sesuatu. Indah sekali. Di kejauhan kami dapat melihat pegunungan Rinjani. Awesome!
simply beautiful..
Could be better with DSLR camera :)

Peace...\/m
the best scene ever...:D

clear water

Cece pushing bike on sand

sarapan

Menikmati sarapan disuguhi pemandangan dermaga...

Setelah sarapan, what to do next? Kami segera menuju pantai untuk merasakan “nikmat’ nya ombak gili,,,yes, we are going to swim! Why not snorkeling? Gak ada waktu lagi men… Why not diving? Why not surfing? Boro-boro diving men, surfing aja kagak bisa haha… So ini hanya masalah waktu dan finansial. Seperti yang disebutkan diawal, kami sedikit menyesal juga tidak langsung ke Gili Trawangan di hari pertama.
pantai dan kapal adalah kesatuan yang tidak bisa dipisahkan

berlatih menjadi "Baywatch"

trust, if you have DSLR camera...the result will even far better

adegan "tenggelam"

mengagumkan..!!!

Setelah berenang di pantai, kami segera menuju kolam renang di hotel kami dan membersihkan diri. Kolam renang hotel juga tidak mengecewakan, the bestlah pokoknya. Kami benar-benar ingin menikmati setiap detik sebelum meninggalkan pulau cantik ini.  
Gili T Resort swimming pool

Pukul 10.30 kami bergegas untuk kembali ke kamar untuk mandi dan bersiap check out. Setelah semua dipacking, kami segera menyerahkan kunci ke reception dan menuju dermaga dengan bersepeda (si empunya sepeda udah nunggu di dermaga men, belum bayar soalnya hehe). Waktu menunjukkan pukul 11.30, setiba di dermaga kami tak harus menunggu lama,sebuah kapal sendang menunggu 2 penumpang lagi sebelum berangkat. 

Well, it was a memorable moment for us both to be in this extremely beautiful island. We did enjoy every single minute here and we indeed regret could not able to stay a day more. 

Good bye Gili Trawangan, we definitely will come back to see you again one day….
Gili Trawangan Street


menuju dermaga dengan sepeda..!
Artiket terkait :

Tuesday, April 30, 2013

PESONA GILI TRAWANGAN - CHAPTER I



Hahahay…setelah 2 tahun lebih menunggu (sejak terakhir mengunjungi Lombok tahun 2010), akirnya kesampaian juga diriku menginjakkan kaki di pulau tercantik se-Nusa Tenggara Barat - GILI TRAWANGAN.  Pulau yang  dikelilingi oleh pasir putih dan biru laut yang mempesona, surga para “divers, surfers, snorkelers, sun-bathers” #hallah atau surga para pelancong –pelancong yang tak punya tujuan khusus seperti saya dan pasangan saya, kami hanya ingin melampiaskan rasa penasaran akan pulau yang selalu menjadi perbincangan khalayak. Dan kami harus akui, pulau ini memang sangat luar biasa cantiknya.
Trio Gili (Gili Air, Gili Meno & Gili Trawangan)

Rencana untuk plesiran ke Gili Trawangan telah kami susun sekitar pertengahan bulan Maret kemarin. Misi yang diusung dalam perjalanan kali ini tak lain dan tak bukan adalah : “a trip for refreshing”. Me- refresh otak dan pikiran dari rutinitas dan pekerjaan yang terasa semakin monoton saja setiap harinya. Setelah membulatkan tekad, eksekusi pun dimulai.

Langkah  pertama: menentukan waktu dan lama liburan. Setelah dipertimbangkan mateng semateng-matengnya, maka dipilihlah hari Jumat (26/04),Sabtu (27/04),Minggu (28/04) sebagai waktu liburan yang tepat. Weekend adalah waktu yang tepat untuk menyiasati jumlah cuti yang tak seberapa dan memanfaatkan libur kerja hari Minggu, yang berarti saya hanya menggunakan 2 dari 3 hari cuti yang saya miliki haha (sedikit bukan?). Yah, 3 hari 2 malam dirasa sudah sangat cukup dan harus benar-benar dimaksimalkan,berhubung dana terbatas. 

Langkah kedua: memperkirakan/mengkalkulasi budget yang akan dihabiskan untuk akomodasi,transportasi dan kebutuhan pangan selama perjalanan 3 hari/2 malam ini. Karena kami berpegang teguh pada misi mulia kami diatas (refreshing), maka tentu saja kami sangat menginginkan perjalanan yang senyaman mungkin. Dalam persepsi kami berdua : “kenyaman” sebuah perjalanan diukur dari tingkat kenyamanan akomodasi yang digunakan, transportasi,atraksi dll adalah faktor pendukung selanjutnya (setuju??). Sedangkan kata “senyaman mungkin” kurang lebih dapat diterjemahkan menjadi “pemilihan akomodasi yang nyaman dengan harga yang pas atau kurang dari atau tidak melebihi (budget) ”, karena justru jika melebihi budget malah akan menimbulkan ke-tidak nyaman-an alias dongkol duit abiss haha. Pertanyaan sekarang, budgetnya berapa?? 

Langkah ketiga, memulai browsing akomodasi di internet. Sudah tak terhitung berapa kali per harinya –disela-sela pekerjaan - saya bolak balik “mengutak-atik” halaman booking(dot)com dan Agoda, kali aja ada hotel bintang tujuh di Gili Trawangan yang masang “very last minute promo” dengan harga kamar dibawah 400 ribu per malam termasuk kamar dengan sea view,private balcony,kolam renang pribadi wwkwkwkw #ngarep(dot)com + ngimpi(dot)com.
 
Ya, destinasi pertama yang direncanakan adalah Senggigi dan destinasi kedua adalah Gili Trawangan. Kami memang merencanakan untuk menginap semalam di Senggigi sebelum ke Gili Trawangan. Banyak referensi yang menyarankan untuk langsung ke Gili Trawangan dan tidak perlu menginap di Senggigi, tetapi tidak apalah kami juga tak ingin melewatkan suasana sore di pantai Senggigi dan melihat-lihat suasana kota Mataram di malam hari, walaupun di akhir cerita kami sedikit menyesal juga harus meninggalkan Gili Trawangan sebelum sempat merasakan nikmatnya snorkeling

Akhirnya, urusan akomodasi beres. Di Senggigi kami memilih SUNSET HOUSE Boutique & Restaurants dengan biaya 20 dollar net per orang per malam termasuk sarapan pagi dan di Gili Trawangan kami memilih FLUSH BUNGALOW yang juga sama 20 dollar per orang per malam yang lumayan FIXED dengan budget. Benar-benar berharap kami tidak salah memilih akomodasi.
STANDARD ROOM @ SUNSET HOUSE Boutique & Restaurants
Lokasi hotel di di Jalan Raya Senggigi, Batu Layar
kolam renang....
Seminggu sebelum perjalanan, form cuti resmi diserahkan,ditanda tangani oleh atasan dan di acc oleh personalia. BERESSS!

Waktu yang ditunggu-tunggu pun tiba. Jumat, tanggal 26 April 2013 pukul 6 pagi, kami melaju menggunakan motor skuter metik scoopy menuju pelabuhan Padangbai untuk “mengejar” Ferry pertama ke pelabuhan Lembar,Lombok. Pukul 8 pagi, tiba di pelabuhan Padangbai dan langsung menuju loket dan membayar tiket untuk 1 motor 2 orang sebesar Rp 101,000,- sekali jalan. Benar saja, setelah membayar tiket, kami langsung dibawa menuju Ferry yang sebentar lagi akan brangkat. Ferry di Padangbai berangkat setiap 2 jam dengan tujuan pelabuhan Lembar,Lombok.

Kami menginjakkan kaki di pelabuhan Lembar tepat pukul 1300 yang berarti kami telah menghabiskan kurang lebih 5 jam diatas Ferry. Tanpa ba-bi-bu, kami tancap gas menuju Senggigi untuk check in dan mencari makan siang. Dari pelabuhan Lembar menuju Senggigi ditempuh kurang lebih 2 jam perjalanan. Ada insiden kecil yang sempat membuat kami sedikit ‘dongkol’ ketika selesai makan siang di Senggigi kami mendapati ban belakang motor gembos! What a day!. Beruntung tak jauh dari tempat makan siang kami ada bengkel, dan ujung-ujungnya kami harus membayar Rp 100,000 per orang gara-gara ban ini,padahal biaya ini sama sekali tidak ada dalam perhitungan unexpected expense - . Pelajaran kali ini : “selalu siapkan dana cadangan untuk hal-hal yang tak terduga selama perjalanan”
disaster...!!
Setelah check-in di Sunset House, kami segera membersihkan diri dan beristirahat sejenak sebelum jalan-jalan untuk melihat dan menikmati suasana malam di kota Mataram,termasuk nongkrong di “the one and only” –Mataram Mall. 

Sabtu, 27 April 2013 – setelah menikmati sarapan pagi, kami menyempatkan diri untuk berleha-leha sejenak sebelum melanjutkan perjalan ke Gili Trawangan. Berenang di kolam renang sambil menikmati suasana pagi di Sunset House dan pemandangan ke pantai Senggigi memang benar-benar sesuatu. Kebetulan penginapan kami mempunyai kolam renang dengan pemandangan laut. What a holiday!


pool deck
berenang ria...
Pukul 11.30 kami check out dari Sunset House dan segera menuju dermaga penyebrangan ke Gili Trawangan di Bangsal, kurang lebih 1 jam perjalana ke arah utara Senggigi. Pukul 1300 kami tiba di Bangsal. Jika menggunakan motor atau mobil, tidak usah khawatir ada banyak jasa parkir motor/mobil di pelabuhan Bangsal, anda hanya perlu membayar Rp 5,000 per hari untuk memarkir motor anda sebelum berangkat ke Gili Trawangan. Setelah membayar Rp 12,500 per orang untuk tiket kapal motor ke Gili Trawangan, kami harus menunggu sampai penumpang mencukupi 25 orang agar kapal bisa berangkat. Ya, disini kapal tidak bisa seenaknya berangkat. Meski begitu, pelabuhan tidak pernah sepi,kapal tiba dan berangkat sambung menyambung, jadi jangan takut sebab kasus ketinggalan kapal adalah kasus yang sangat langkah.

Pukul 1330, setelah penumpang cukup, kami segera menaiki kapal dan bertolak ke Gili Trawangan. Cuaca cerah, laut tenang. Lama waktu yang dibutuhkan untuk sampai ke Gili Trawangan adalah sekitar 30-40 menit.

Kapal motor ke Gili Terawangan (kapsitas 20-25 penumpang)
 
Setelah membeli tiket,penumpang berkumpul menunggu keberangkatan kapal

berangkattt!!!!!!

Artikel terkait :



ONE DAY TRIP - NUSA PENIDA

Saturday, 17th Jun 2017 Setelah sekian lama 'blog' ini mati suri akhirnya 'mood'datang juga untuk melanjutkan cora...