Showing posts with label Kawan Hostel. Show all posts
Showing posts with label Kawan Hostel. Show all posts

Thursday, February 26, 2015

SINGAPORE TRIP (DAY 1) : CHANGI - BEDOK - HARBOUR FRONT- LITTLE INDIA

Jerijourneys.com - Ini adalah lanjutan cerita tentang perjalanan "backpacking" ke negara tetangga Singapura February tahun silam , selamat!! postingan mandek alias gak kelar-kelar...berharap tahun ini bisa kelar ! Lanjutt...

Setelah selesai dengan segala kerepotan di bandara cantik Changi, kami akhirnya bisa mendudukkan pantat di salah satu sudut stasiun MRT "bawah tanah". Kenapa saya sebut bawah tanah, ya karena memang dibawah tanah #hallah kira-kira 3x turun escalator dari Terminal 2. Yang membuat saya geleng-geleng #katrok adalah betapa hebatnya Singapura men-desain stasiun dan jalur MRT sedemikian rupa (men-cover seluruh Singapura) – maksut saya: ini stasiun ama  jalur MRT (walau gak semuanya) digali berapa meter dari permukaan tanah, ini pasti membutuhkan waktu yang lumayan lama pengerjaan proyeknya. (sok sok ngerti teknik).

Berpose di depan Bedok North Avenue
Tujuan selanjutnya adalah stasiun bus, BEDOK. Kenapa BEDOK? Begini penjelasannya: Saat trip Singapura rampung 70%, pertama kali yang muncul dalam benak saya adalah ,sampe di Changi trus kan mau ke hotel nih ceritenye, mau naik apa? Trus kan di map kan udah keliatan tuh Little India, emang segampang itu kesana pake MRT ? kan enggak, pasti ada jalurnya…*mutar otak*

RUTE MRT  
Yang gak suka baca map ato yang geograpinya gak lulus, pasti mau muntah liat nih gambar. This is MRT (Mass Rapid Transit) Map – atau peta rute MRT. Ini juga baru saya tau setelah mendengar cerita-cerita dari temen kalo di Singapura itu gak ada yang namanya "metro mini" yang seliweran dalam kota dan bikin macet dan risau (walopun sebenarnya ada bus cuman bedanya bus disini terjadwal dan teratur dan tidak berhenti di sembarang tempat,tidak ugal-ugalan apalagi naik trotoar) , gak ada becak, gak ada ojek yang bisa disetop dimanapun dan pergi kemanapun. Moda transportasi umum itu MRT. Langsung deh saya nyari info. Ya itu, info yang saya dapat : jika mau naik MRT harus pake kartu EZ-Link. Nah, jalur MRT dari Airport Changi adalah yang berwarna "ijo" endingnya di Joo-Koon.

Oke, Bedok atau lebih spesifik Bedok Bus Interchange adalah salah satu stasiun bus ter-ramai ke-2 di Singapura dari total kurang lebih 19 interchange/terminal. Lokasi stasiun Bedok tidak jauh dari bandara, gak sampe 10 menit jika naik MRT. Asal muasal pengen naik bus: Karena kami ingin memaksimalkan waktu, yang hanya 2 malam 3 hari, maka setelah sharing dengan tim seperjalanan (walopun raut muka mereka sedikit berubah setelah mendengar kata “naik bus” hehe) maka diputuskan untuk “sightseeing” dengan bus dari Bedok ke Harbour Front /Vivo City dengan hanya membayar seingat saya sekitar  S$ 2 per orang.  Yah murahlah, ketimbang harus nyewa mini-bus + guide untuk touring dengan waktu terbatassss, pasti ongkos mahal pulakk, bisa habis duit saya yang hanya 300 dolar Singapura. Bus yang digunakan bertingkat 2 kayak bus di London (sok pernah ke London) ,jadi kami memilih duduk di lantai 2 dan paling depan, agar bisa dengan leluasa menikmati view kota Singapura.

Wah ada cewek kece duduk di pojokan ( bukan yg baju merah ya)!!

Ngapain, bang??

sambil baca peta!!

Wendy , Ica
So kami mengambil bus nomer#30 dengan rute sbb : BEDOK – NEW UPPER CHANGI ROAD – CHANGI ROAD – GEYLANG ROAD – TG KATONG ROAD – DUNMAN ROAD – OLD AIRPORT ROAD – MOUNTBATTEN ROAD – FORT ROAD – MCE (lewatin underpass, trus lihat Singapore Flyer sekilas) - KEPPEL ROAD – TELOK BLANGAH – VIVO CITY


Rute Bus BEDOK - HARBOUR FRONT (Vivo City)
Jam menunjukkan pukul 3 ketika kami sampai di Vivo City, salah satu pusat perbelanjaan (Mall) di Harbour Front, deket dengan pulau Sentosa (Sentosa Island). Ada yang aneh, kami merasa agak lemes kurang tenaga . Usut punya usut, ternyata tangki belum diisi (baca:perut) sejak tiba tadi, maklum rada nerves dan bingung mikirin banyak hal. Setelah berkeliling Vivo City – kayak mall pada umumnyalah alias nothing was too special, dari segi layout dan barang-barang yang dijual hampir samalah kayak mall-mall di Indonesia (emang maunya kayak apa?)  bedanya barang-barangnya ber-price tag dolar Singapur dan jika di Rupiah-kan hampir sama juga harganya. Kami kemudian menuju Food Court di lantai paling atas untuk melepas lapar dan dahaga. Setelah berkeliling memilih dan mengamati jenis-jenis masakan yang dijual – yang ternyata disitu ada juga makanan ber-bau Indo, misalnya : Nasi Goreng Jakarta, Pecel dll. 

Setelah mondar-mandir gak jelas, akhirnya kami memilih kedai yang menjual semacam nasi campur persis kayak Warung Prasmanan Bu Tinuk (asli Jowo Timur) tapi yang jaga si mata sipit dengan logat Singlish. Gak tau tuh jenis-jenis makanannya, yang saya tahu hanya “nasi lemak” setelah dimakan ternyata “nasi uduk” hadehh. So kami membayar sekitar $3 dolar Singapur untuk makanan + S$ 3 untuk minuman. Agak mahal untuk kantong kami (budget terbatas), tapi mau apa rata-rata harga makanan di Singapur ya segitu.
"acara maksi di foodcourt Vivo City"

"Entah, lagi ngobrolin apa nih"
Setelah selesai makan, kami bergegas untuk segera meluncur kepenginapan (yang sudah kami pesan melalui Booking.com gak tanggung tanggung 3 bulan sebelumnya) - Kawan Hostel di Little India. Dari Harbour Front (Vivo City) ke Little India,  sangat mudah karena hanya melalui satu rute MRT (gak perlu keliling 10x di MRT  interchange) rute ungu : NORTH EAST LINE – NE  (warnaungu – lihat peta MRT) , Little India sendiri terletak di NE7 (lihat peta).

Suasana MRT


Semakin deket dengan Little India semakin banyak penumpang MRT berwajah India. Tapi gak salah, soalnya saya sempat mencari informasi tentang Little India di Google dan memang ya begitulah informasinya, Little India adalah kompleksnya orang India di Singapura. 

Sekitar pukul 4, kami tiba di NE7 LITLLE INDIA , dan segera keluar dari MRT kemudian mengikuti petunjuk arah menuju Exit. Setelah berjalan kaki dengan jarak yang lumayan maka sekali naik tangga lagi kami menginjakkan kaki di Little India, maka fix hampir 100% orang-orang yang berseliweran adalah pure orang India. Gosh! 

Tadahh!! Kami persis muncul di deket sebuah pasar kalo gak salah di  Buffalo Road St (Jalan Kebo) dan..oh my…look at this! Baru deh nyadar, this an absolute Indian settlement. Di setiap sudut area ini semua India, dari pakaian, kulit, bau dan apalah…..No Racist Please!!

Etnis India, menduduki posisi ke 3 atau menyumbang kurang lebih sekitar 9% dari total populasi Singapura menurut data 2013, dari beberapa etnis di Singapura. Etnis dengan populasi terbanyak adalah China kemudian Melayu. Pada masa pre-kolonial , jika kita melihat sejarah pada abad ke-8  bisa disimpulkan bahwa India memegang peran penting dalam peradaban/sejarah Asia Tenggara, ketika pada masa itu orang-orang India datang untuk berdagang, kemudian menyebarkan filosfi agama mereka yaitu Hindu-Buddha. Pada masa kejayaan Sriwijaya, penyebaran agama Hindu-Buddha begitu pesat di Asia Tenggara.

"Sharukh Khan ketangkep Paparazzi lagi ngobrol ama Amitha Bachan"
@Little India
Pada masa penjajahan Inggris di Asia, khusunya di India dan Singapura, ada banyak orang India yang dibawa untuk dipekerjakan sebagai buruh kasar maupun sebagai tentara. Kemudian pada pertengahan abada ke-20 orang-orang India mulai membangun pemukiman  di Singapura. Namun jangan salah ,bagi sebagian orang India menjadi permanen residen di Singapura tidak segampang yang kita pikirkan . Para pekerja tanpa skill (unskilled workers) hanya diberikan waktu maksimum 2 tahun untuk berada di Singapura dengan “Work Permit”, dan tidak akan mendapatkan hak untuk mengajukan “Permanen Residen”  sedangkan bagi sebagian etnis India yang –yah istilahnya- para professional, wirausahawan yang mempunyai pendapatan tinggi secara otomatis dijamin untuk mendapatkan perpanjangan “Employment Pass” dan bahkan diberikan hak untuk mengajukan permohonan untuk menjadi “Singapore Permanent Resident”. Sangat panjang perjalanan ataupun perjuangan etnis India di Singapura jika kita ingin membahas lebih detail, tapi ini hanya sekilas saja. Menurut saya sih kebijakan ini, walopun agak sedikit berbau diskriminasi tapi memang harus demikian mengingat Singapura bukanlah negara dengan wilayah yang luas , jadi populasi harus diperhitungkan jangan sampe over-population istilahnya (sok ngerti ilmu sosiologi)..

Namun pada dasarnya, keberadaan etnis India di Singapura juga tidak bisa dipandang sebelah mata karena mereka juga telah sangat berpartisipasi dan berkontribusi banyak dalam sejarah Singapura misalnya di bidang Politik, sebut saja : C.V Devan Nair (Presiden ke-3 Singapura), S.R Nathan (Presiden ke-6 Singapura) dan  Balaji Sadasivan (ex-Menteri Luar Negeri Singapura) yang kesemuanya adalah ber-darah India.

Selesai dengan ke-bengong-an kami, melihat begitu banyaknya India-he disini, kami kembali dibingungkan untuk mencari Dunlop St (Jalan Dunlop) ,lokasi hostel kami. Buset, kemana nih sekarang? gumam saya dalam hati. Yang paling nyesek adalah ketika saya tahu bahwa jaringan telkomsel saya bener-bener tidak ada signal alias completely dead! Otomatis gak bisa ngapa-ngapain ataupun akses google map – walaupun saya tau biaya internetan pasti akan lebih mahal karena kena roaming – tim seperjalanan yang lain gak ada masalah tuh dengan jaringannya,malahan dilayarnya pada muncul SING-TEL gitu (tapi gak ada pulsa juga hahaha), koq saya sendiri yang matek ya. Misteri itu belum terpecahkan sampai sekarang. #tsahhh…sudahlahhhh.

Dunlop Street

Penampakan Dunlop Street di waktu pagi


Kawan Hostel yang cantik dan menawan :D
Berbekal map yang saya colong di bandara tadi kami mencoba mereka posisi Dunlop St, ternyata masih sekitar 10 menit perjalanan jauhnya dari lokasi kami berada. Untung gak bawa barang sekontener, bisa mati gaya. Sejauh mata memandang , memang gak satupun taxi maupun angkot terlihat.

Kawan Hostel adalah salah satu diantara pilihan (seperti dipaparkan pada cerita di Singapore Trip part 1) yang lebih kompromi dengan bujet , cocok untuk kami ber-4 dengan private bathroom (hot & cold pula). Harga per orang per malam adalah USS$30 atau sekitar Rp 285,000, sarapan self service (buat sendiri) dengan hanya ada roti dan selai plus pemanggangnya. Teh dan kopi sudah disiapkan, tinggal seduh dengan airpanas dari termos. Yah , okelahhh….
makan pagi.......


Artinya : abis makan, dicuci tuh piring, trus balikin ke rak

tersinggung......koq dalam bahasa Indonesia pemberitahuannya..artinya???
Setelah ber-istirahat beberapa saat,  kami segera ngantri di pintu kamar mandi untuk membersihkan diri kemudian memakai pakaian ter-cantik masing-masing dan segera menuju kondangan MUSTAFA CENTER yang ternyata hanya sekitar 10 sampai 15 menit dengan berjalan kaki, masih sekitaran Little India.

MUSTAFA CENTER adalah salah satu pusat perbelanjaan 24 jam di Singapura lokasinya di Syed Alwi Road. Menjual berbagai macam pakaian, elektronik, parfume, cokelat dsb. Jadi yang suka shopping, coba aja ke sini, kalo saya sih enggak ya karena memang gak punya duit . Saya waktu itu cuman beli International Adaptor seharga $3 (ga tau mau diapain - ohh gara-gara di hostel gak bisa ngecharge karena ga ada adaptor sekaligus untuk persiapan travelling berikutnya kali- Amin) , dompet (kayaknya sih kulit asli) $12 (udh setahun masih awet), ya belanja disini lumayanlah barang-barangnya juga termasuk bagus-bagus koq.

Selesai berbelanja, waktunya pulang tapi mau nyari makan dulu. Kami sibuk mencari tempat yang cocok untuk makan, akhirnya terdampar di salah satu restoran DIM SUM yang direkomendasikan oleh teman kami di Singapura meskipun gak jadi ketemuan. Nama restorannya : SWEE CHOON atao apalah ...dimana kami kebingungan memahami menu yang semuanya dalam huruf kanji mandarin. Untuk sementara bahasa Inggris kami “mati” disini. Ditambah si pelayan gak bisa bahasa Inggris hanya memakai bahasa tubuh.  Untung menunya pake gambar, kalo gak, ga tau deh ending-nya gimana nih acara makan malam. Yang jelas, setelah semua pesanan disajikan kami hanya bisa berpandangan sambil menahan tawa. Semua nampaknya agak-agak shock dengan pesanan masing-masing.

Sekitar pukul 10an kami kembali ke hostel dengan keluhan seragam "betis pegel" gara-gara jalan kaki. Bagaimana tidak, 99% aktivitas disini melibatkan jalan kaki, dimulai di Bandara, stasiun bus Bedok, yang paling gila di MRT interchange , Little India, Mustafa Center, wihh..kapok..

Walo begitu, lumayan happy-lah bisa jalan2 di Singapura. That's the story for today,hari pertama selesai , kita tutup. Tok,tok,tok!

Wednesday, March 5, 2014

JALAN-JALAN KE NEGARA TETANGGA -SINGAPURA ( BAGIAN I)

So first of all, let me personally thank AirAsia so much for the promotion fare. We got IDR 480,333 per person for the roundtrip, isn’t that amazing??

Tanggal 16 September 2013 , tiket  Denpasar – Singapura  resmi dibeli untuk traveling period  Februari 2014.Tanggal perjalan yang ditentukan adalah: berangkat 8 FEB, pulang 10 FEB. Akhir Oktober 2013 , pengurusan dokumen perjalanan (paspor) selesai. Partisipan untuk perjalanan kali ini adalah Ance, Melisa dan Wendy (adik Ance).
The Singapore Return Ticket with AirAsia
Untuk urusan akomodasi atau tempat menginap kami tidak terlalu khawatir. Keberadaan Online Travel Agent(OTA) seperti biasa sangat membantu tentunya dalam proses penyortiran #hallah. Nah, pada bulan yang sama, saya mulai “surfing” di sela-sela pekerjaan saya menyempatkan diri mencari-cari akomodasi yang cocok bagi kami berempat. Karena tema perjalanan ini adalah “backpacking” maka tipe akomodasi yang kami pilih tentunya  yang tidak mahal-mahal.

Akomodasi bajet di Singapura adalah yang berlabel “hostel”.  The good news is  hampir disetiap kawasan turis di Singapura ada saja akomodasi yang ber-embel “hostel”. So if you go on a budget trip to Singapore, no need to worry-lah.

Hostel menurut om Wiki:“provide budget-oriented, sociable accommodation where guests can rent a bed, usually a bunk bed, in a dormitory and share a bathroom, lounge and sometimes a kitchen. Rooms can be mixed or single-sex, although private rooms may also be available…” kalau saya terjemahkan kurang lebih seperti ini:  “akomodasi bajet dimana  para tamu dapat menyewa tempat tidur (bunk bed), berbagi kamar mandi atau ruangan dan kadang-kadang dapur. Kamar bisa dicampur atau satu jenis kelamin, meskipun kamar pribadi mungkin juga tersedia..” 

So begitulah kira-kira keadaan hostel dan yang paling ekstrim adalah anda harus sekamar dengan beberapa orang yang tidak dikenal dan berbagi kamar mandi dsb. Bagi para “backpacker” sejati kondisi ini sangat “normal”. Jadi ingat pernah baca pengalaman mba "Trinity" (Traveller) nginep di hostel hehe.

Pencarian hostel berlanjut, ditemukanlah si  KAWAN HOSTEL yang lokasinya di Dunlop Street No 28, Little India. Saya juga sudah mencatat alternatif hostel yang lain, akan tetapi……..

Dunlop Street
Kawan Hostel
Pada akhirnya  pilihan kamipun  jatuh pada KAWAN HOSTEL. Alasan utama kami memilih hostel ini adalah karena memiliki kamar yang bisa untuk berempat (ranjang susun) dan punya kamar mandi sendiri (private bathroom). Beberapa hostel di beberapa kawasan (Bugis, Chinatown dsb) yang masuk dalam incaran kami justru sharing kamar mandi dan juga jarang yang mempunyai kamar untuk berempat. Ya sudahlah, akhirnya kami memilih kawasan Little India yang walaupun in the end I had to say: Oh my God, I’m actually in India not Singapore LOL *kidding*!! Oh ya, satu lagi alasan kami memilih hostel ini karena mereka memperbolehkan pembayaran pada saat check in.

Sebelum melakukan bookingan, tidak lupa saya mengecek komen-komen tamu Kawan Hostel di TripAdvisor hanya untuk memastikan bahwa kami tidak salah memilih akomodasi dan so far tidak ada komen yang terlalu “buruk”, hanya saja lokasi yang lumayan jauh dari stasiun MRT menjadi salah satu poin buruk – ini juga akhirnya kami sadari setelah berada di TKP-.

Pertengahan Januari , kami mulai disibukkan dengan beberapa hal, diantaranya adalah :

PENUKARAN MATA UANG

Memasuki Desember 2013, kami mulai memantau nilai tukar Rupiah ke Dollar Singapura dan ternyata semakin hari  nilai tukar bukannya semakin “mengecil” malah cenderung statis di level 9,500 dan 9,600…hingga pada akhirnya kira-kira 2 minggu sebelum keberangkatan , kami menyerah pada level Rp 9,605 per 1 Dollar Singapura dengan sangat tidak ikhlas , apalagi jika mendengar cerita salah satu teman saya yang tahun lalu menukarkan Dollar Singapuranya di  Rp 5,000 an ..akh semakin tidak ikhlas!

Uang jajan selam di SIN.....
TIKET UNIVERSAL STUDIO 

Salah satu nilai plus Singapura adalah “UNIVERSAL STUDIO” so gak salah jika saya bilang jalan-jalan ke Singapura tidak “afdol” rasanya jika tidak berkunjung kesana.  Universal Studio itu hanya ada di 4 tempat di dunia:  2 di Amerika plus 2 di Asia ini (di Florida, di California, di Jepang dan di Singapura).
Harga tiket Universal Studio Singapura sangat bervariasi dan jujur sangat membuat kami agak bingung. Antara agent A,B,C hanya selisih beberapa rupiah ,sedangkan jika Go Show  malah bisa lebih murah ataupun bisa lebih mahal (itu sih katanya-kata teman teman yang sudah pernah kesana!!). Tapi karena tidak mau larut dalam spekulasi maka kami memutuskan untuk membeli melalui Tiket.com seharga kurang lebih kira-kira S$65.00 per orang untuk 1-day pass (alias bisa nangkring sampe tutup).

Setelah melakukan pembayaran secara bank transfer, kami pun mendapatkan 4 voucher (via email) yang harus kami tukarkan dengan tiket fisik sesampai di Universal Studio nantinya, tapi  membuat kami sedikit kaget…..

Voucher USS dari Tiket.com
Jadi begini ceritanya : Ada 2 tipe harga(Adult) di website Tiket.com untuk Universal Studio Singapore, pertama: Harga termasuk MEAL VOUCHER S$10 + RETAIL VOUCHER S$5 jika voucher ditukarkan dengan tiket fisik ,langsung ke kantor pusat Tiket.com di Jakarta. Kedua: Harga TIDAK termasuk MEAL VOUCHER S$10 + RETAIL VOUCHER S$5 jika voucher ditukarkan dengan tiket fisik, di Universal Studio Singapura.

Jadi tanpa membaca DENGAN SEKSAMA bahwa harga TIDAK TERMASUK Meal Voucher + Retail jika penukaran dilakukan di Singapura, kami pun memilih pilihan kedua karena menukarkan ke Jakarta akan benar-benar sangat tidak mungkin kami lakukan. Nah, pada saat rekonfirmasi ,baru dehh…MENGELUS DADA karena berarti kami harus merogoh gojek lagi kurang lebih SIN$ 10-SIN$15 untuk makan siang nanti di USS.

Langkah selanjutnya setelah menerima voucher adalah mengirimkan email ke pihak Tiket.com minimal 2 hari sebelum penukaran voucher. Maka tepat sebelum hari H yaitu Jumat, 7 February 2014 kami mengirimkan email ke Tiket.com untuk mengkonfirmasi bahwa kami akan berkunjung ke Universal Studio pada hari Minggu, 9 Feb 2014.  Setelah itu kami menerima semacam surat konfirmasi berisi detil dan waktu penukaran, untuk kemudian kami tukarkan nanti dengan tiket fisik di Singapura nanti.  Urusan Tiket sudah selesai.

untuk ditukarkan dengan tiket USS nanti!

Langkah berikutnya adalah  mempermantab RENCANA PERJALANAN (ITINERARY). Poin yang ke-3 ini tidak kalah penting karena kami benar-benar ingin memaksimalkan waktu yang hanya 3 hari 2 malam ini semaksimal mungkin dengan mengunjungi tempat tempat yang menarik (walapun pada akhirnya TIDAK!). Mulailah saya mengutak-atik TripAdvisor, masuk ke Singapore forum di TripAdvisor untuk sekedar bertanya (untung ada juga yang mau jawab), mencari objek wisata yang bisa dikunjungi selama disana.  Highlight sbb:

8 Feb 2014   Arrival -Changi – naik Bus (sight seeing) – Harbour Front/Vivocity- Check in

9 Feb 2014   : Universal Studio Singapore Fullday

10 Feb 2014 : Half day – Departure

However,in fact  in the very end, things were not going according to plan!

Jadi kurang lebih seperti itulah persiapan perjalanan ke Singapuranya, yah termasuk tidak ribet-ribet amat – easy preparationlah-. Pleasiran ke Singapura gak mesti ribet , yang penting anda  punya : PASPOR, TIKET PP dan DUIT jajan secukupnya........

ONE DAY TRIP - NUSA PENIDA

Saturday, 17th Jun 2017 Setelah sekian lama 'blog' ini mati suri akhirnya 'mood'datang juga untuk melanjutkan cora...