Wednesday, March 11, 2015

SINGAPORE TRIP (DAY 2 & 3) : MARINA BAY (Merlion) - UNIVERSAL STUDIO – BUGIS – ORCHARD ROAD

Jerijourneys.com - Minggu , 9 Feb 2014 : Waktu menunjukkan pukul 0630 waktu Little India, ketika semua terbangun dari tidur dan menyibukkan diri merapikan pernak-pernik yang dibeli semalem di Mustafa. Maklum semalem udah pada tepar kecapekan. Diluar sudah terang benderang  padahal masih terbilang pagi banget.  Hari ini kami akan menghabiskan sehari penuh di  UNIVERSAL STUDIO sesuai rencana awal.

UNIVERSAL STUDIO is a must visit jika kalian jalan-jalan ke Singapura.  Seperti diawal cerita dijelaskan bahwa UNIVERSAL STUDIO hanya ada 4 (empat) di dunia,ada 2 (dua) di Asia yaitu di Jepang dan satunya lagi nagkring di pulau Sentosa milik Singapura, dibangun pada tahun 2007 dan diresmikan (grand opening) pada tahun 2011. So tidak afdol rasanya jika plesiran ke Singapura dan tidak membawa ole-ole photo di depan bola dunia raksasa bertuliskan UNIVERSAL.

Okeh, setelah mandi cantik dan sarapan ala Kawan Hostel , masing-masing telah siap dengan gear untuk “having fun” hari ini dan segera bertolak ke Sentosa Island (pulau Sentosa).

Sentosa Island terletak di sebelah Selatan kota, deket dengan mall tempat kami makan siang kemarin di Harbour Front (Vivo City). Akses kesana dapat dengan berjalan kaki mulai dari mall kemudian melewati semacam jalur pejalan kaki, dengan jarak tempuh kurang lebih 15-30 menit. Dapat pula dengan menggunakan sky-train melalui lantai paling atas (top floor) mall Vivo City (deket foodcourt) dengan membayar (jika anda sudah punya EZLink lebih gampang) kalo gak salah S$4 per one way (maaf kalo keliru, sudah rada-rada lupa).

Oh ya, karena waktu yang sangat terbatas (besok kami sudah harus balik ke Bali), maka kami berencana untuk menyempatkan diri  mampir dan berfoto di patung MERLION (patung singa Mermaid +Lion) ,ikon Singapura yang tersohor. Kalo gak fotoan disini, gak seru permirsahh. Patung Merlion ada di sekitaran MBS (Marina Bay Sand) atau di deket-deket Fullerton Hotel (Espanade street – Fullerton Rd) , nah pas diseberang patung Merlion (seberang danau) si Marina Bay Sand menjulang tinggi dengan cantiknya. So Impressive!!

Satu kesalahan ,jangan ditiru : Dari Little India menuju Merlion Statue, kami mengambil rute MRT sebagai berikut : NORTH EAST LINE (NE7-Little India) ke DHOBY GAUT (interchange) kemudian mengambil NORTH SOUTH LINE-NS (jalur merah lihat peta) ke arah NS28- MARINA BAY. Ternyata, lebih dekat jika turun di NS26 – RAFFLES PLACE. Alhasil, kami harus berjalan kaki dari stasiun selama kurang lebih 20 menit untuk sampai ke tujuan, lumayan pegel juga tuh kaki, untung masih pagi. Itung-itung olahraga.  Sedangkan jika dari RAFFLES PLACE tetep berjalan kaki juga, ya paling 10 menit.

"MBS dari kejauhan"
"berlatar MBS"
"Mau nyebrang tapi takut, ga ada kendaraan sama sekali"

"(Wendi) Merlion ada di ujung sana..."

Akhirnya tiba di tujuan…………………

"Voila ..Merlion Statue ft Marina Bay Sands"

"Singapuranya baru terasa.."
" icon Singapura yang tersohor..."
"selfie dikit boleh lah ya...."
Oke enough dengan patung Merlion, mari kita lanjutkan ke Pulau Sentosa.  Untuk menuju Harbour Front kami akhirnya memilih stasiun RAFFLES PLACE menuju OUTRAM PARK (interchange) dan mengambil rute ungu menuju Vivo City. Tak perlu berlama-lama, kami segera meluncur ke lantai paling atas dan mengantri untuk sky-train menuju Sentosa Island. Excited!

Singkat cerita, kami tiba di main entrance UNIVERSAL STUDIO (US) dan segera sibuk celingak-celinguk mencari representative travel agent yang akan stand by untuk memberi kami 4 tiket masuk dan kami tukarkan dengan receipt pembelian via online di tiket.com. Agak bingung juga, kami diinstruksikan menuju salah satu sudut disebelah main entrance (gerbang raksasa). Ketika kami lagi asik bertanya sana-sini , eh bener saja seorang bapak paruh baya menghampiri kami mengkonfirmasi pemesanan atas nama saya JERI, akhirnya bisa menghela nafas – takut ditipu #norak – yap, resmi 4 tiket UNIVERSAL STUDIO (US) sudah ditangan. Setelah saya bolak-balik di belakang tiket tertulis kalo kami dapet jatah (semacam diskon) $5 setiap pembelanjaan souvenir min S$30 di outlet-outlet  yang ada di kawasan US, dan juga tiket sudah termasuk jatah makan S$10 per orang.  Saya pun bingung, lha..katanya ga dapet makan? Tapi saya ga protes karena ini jelas menguntungkan (tertawa iblis dalam hati) mungkin dia salah ngasi tiket----kemudian mengendap-endap memasuki gerbang.


atas : tiket USS  ----- bawah: didepan pintu masuk USS
Universal Studio adalah sebuah wahana rekreasi dengan luas sekitar 20 hektar dengan 24 attraksi dan juga terdiri dari 7 (tujuh) theme zone  yang masing-masing zona ber-thema-kan film-film blockbuster yang popular lengkap dengan attraksi unik, tempat makan dan souvenir shop. Theme zone disana antara lain : HOLLYWOOD ( disetting menyerupai situasi di Hollywood, Amerika) , NEW YORK (juga di setting menyerupai situasi New York,Amrik) , SCI-FI CITY (berfoto bersama robot “Transformer” dan nyobain “Transformer – The Ride” ), ANCIENT EGYPT (di set up menyerupai Mesir jaman kuno, dan nyobain “Revenge of the Mummy” yang gokil), THE LOST WORLD (liat patung Dinosaurus dan pertunjukan di WaterWorld) , FAR FAR AWAY (yang suka film SHREK pasti seneng disini), MADAGASCAR (bertema film Madagascar).




1) Taman Jurassic 2) Far Far Away Castle 3) Hollywood 4) Madagascar

Secara umum, semua wahana-wahana disini sangat luar biasa. Tetapi yang paling berkesan versi saya adalah roller coaster “The Revenge of the Mummy- Ride” – patut anda coba – yang punya masalah dengan jantung, tidak usah mencoba. Seumur-umur , ini pengalaman pertama naik roller coaster dalam kedaan gelap gulita, dengan kecepatan yang gak main-main 60 km/jam. Pas kelar, tulang rasanya rontok semua, lemesnya minta ampun.


"berpose bersama Rick O'Connell dan Evelyn - The Mummy Returns"
                         
"Revenge of The Mummy - must try!!"
Kedua yang paling berkesan adalah “Transformer – The Ride” (4D) , disini lebih seru lagi, jadi kita berperan sebagai salah satu robot Transformer yaitu Evac yang mencoba menyelamatkan AllSpark dengan bantuan Optimus Prime dan robot-robot lainnya dari kejaran Megatron dan Grindor.

Sayang sekali, kami tidak bisa mencoba BATTLESTAR GALACTICA (roller coaster duel) dan gak bisa nonton pertunjukan WATERWOLRD tanpa sebab yang jelas. Mungkin dilain waktu.

Hampir semua wahana kami coba, dan tak ada lain yang berkesan kecuali yang saya sebutkan diatas. Wahana lain , menurut saya lebih cocok untuk anak-anak. But most of all, senang juga bisa ada disini , probably once in a lifetime, who knows?

Rute berikutnya, karena Wendy akan pulang lebih pagi besok dan dia belum sempat membeli ole-ole maka kami harus meninggalkan US lebih cepat (gak jadi full-day) dan berangkat ke BUGIS. Kami memilih untuk berjalan kaki menuju Vivo City Mall melalui pinggiran pulau Sentosa.

" Universal Globe..."

" sesekali naik ini biar gak capek jalan..."

" on the way dari USS ke Vivo City..."
Setelah menghabiskan 2 jam di BUGIS mencari ole-ole , kami kembali ke hostel untuk beristirahat . Hari  panjang dan melelahkan, namun begitu cukup memuaskan. Tidur sambil senyum-senyum. Thanks US for today. Hari ke-2 selesai.

PULANG.....

10 Feb 2014 – Kami bangun pagi-pagi sekali untuk mengantar Wendi ke Bandara untuk penerbangan jam 8 ke Kualanamu, Medan plus sekalian check out dari Kawan Hostel dan menunggu di Changi aja untuk penerbangan kami  ke Denpasar, gak tanggung-tanggung jam 4 sore. Selamat membusuk di Bandara.  Namun takdir berkata lain, setelah tiba di bandara alangkah terkejutnya kami ketika melihat Flight Information Board bertuliskan penerbangan dengan Tiger Air ke Medan  batal dan di re-schedule ke hari berikutnya. Si Wendi terancam menginap di Changi. Setelah diinvestigasi ternyata penyebab dibatalkannya penerbangan adalah karena si Sinabung lagi bergejolak dan memproduksi abu vulkanik yang sangat tidak bersahabat dengan mesin pesawat.  Setelah mencari alternatif penerbangan lain yang ternyata tidak ada, Wendi akhirnya menerima nasib untuk dioper ke penerbangan esok hari tanpa biaya tambahan, yang berarti Wendi harus bermalam di bandara. Ya sudahlah, kami juga tidak terlalu khawatir karena Changi adalah bandara bintang lima dengan fasilitas dan hiburan yang tiada tandingan se-Asia Tenggara. Maksud saya, jika seandainya ada yang ngasih Voucher untuk Free Stay semalem atau dua malem di Bandara Changi, saya mau bangettlah haha.

Dengan peristiwa ini, artinya kami masih punya waktu kurang lebih 4-5 jam free untuk melakukan sesuatu. Akhirnya diputuskan untuk mencari makan siang ke area ORCHARD ROAD, walopun kami tidak membeli apa-apa, hanya ingin melihat seperti apa sih Orchard Road itu. Orchard Road memang bener seperti yang disebut orang-orang, adalah kompleks /area shopping mall untuk berbelanja barang-barang ber-merk (branded items) dengan harga selangit bagi orang-orang kere seperti saya. Ya sudahlah, lupakan tentang belanja disini, mari kita cari makan. Akhirnya kami terdampar disalah satu foodcourt di salah satu mall di area Orchard - LUCKY PLAZA SINGAPORE. Setelah makan, tak lupa jalan-jalan / larak-lirik apa-apa yang bisa dibeli dengan harga terjangkau sambil sesekali melihat jam tangan.

" masih sisa S$ 4 dan koin-koin..."

"hanya ini yang bisa dibeli...."

Jam 1, kami sudah berada di gerbong MRT menuju Bandara Changi (3x interchange), mengingat untuk penerbangan Internasional kami harus stand by minimal 2 jam sebelum take off.  Sesampai di bandara kami segera mengambil barang (yang tadi di titip di concierge) dan segera check-in, setelah memberikan wejangan ke Wendi yang akan kami tinggalkan. Jam 3, kami sudah duduk manis di waiting room menunggu panggilan boarding. Saatnya kembali ke realitas!!


THE END 

Tuesday, March 10, 2015

5 TUJUAN WISATA ZIARAH WAJIB BAGI KRISTIANI BAG 1: MESIR


Jerijourneys.com - Wisata ziarah atau 
pilgrimage tourism adalah wisata atau traveling yang dilakukan individu atau kelompok untuk tujuan ziarah atau untuk menjalankan bagian dari kepercayaan spiritual atau agamanya, untuk misionari, atau untuk kesenangan spiritual. Adapula yang disebut dengan Wisata Sekular (Secularism Toursim) yakni wisata ziarah yang bukan berdasarkan motif agama atau kepercayaan adat, tetapi karena latar belakang ikatan spiritual, kekaguman, dan popularisme.  (Tempo.co).

Jika suatu saat nanti saya punya duit, berikut saya sudah me-list negara maupun tempat yang akan saya kunjungi (semoga terwujud) tentu saja untuk tujuan Ziarah , ya menapak tilas istilahnya.

Saya belum pernah ketempat-tempat ini, jadi informasi-informasi yang terangkum disini adalah hasil riset sendiri melalui berbagai sumber dari internet. Jika teman-teman sudah pernah kesana, mohon jangan ragu untuk sharing jika ada informasi yang kurang.

Kita mulai saja……..

MESIR ( Tall El-Dab’a , Saqqara, Saheil Island )

Mesir , sebuah negara dengan sejarah dan peradaban yang menakjubkan dengan landmark Piramida yang menawan penuh misteri. Alexandria, Cairo, Mephis, Rameses adalah beberapa kota di Mesir yang banyak disebut dalam sejarah dan menjadi saksi kejayaan Mesir jaman dahulu kala.

Berbicara mengenai wisata ziarah (pilgrimage tour) , tidak perlu bertanya-tanya lagi kenapa Mesir masuk kedalam daftar “tujuan wisata ziarah” baik bagi kaum Nasrani maupun Muslim . Salah satu event terbesar dan popular dalam sejarah dunia adalah “the exodus” , sebuah peristiwa besar dimana bangsa Israel dibebaskan (Allah) dari perbudakan kemudian meninggalkan Mesir untuk pulang ke kampung halaman mereka, yaitu tanah Kanaan (sekarang wilayah Lebanon, Suriah,Yordania dan Israel).

Sekenario pembebasan umat Israel , bermula dari seorang pemuda Ibrani bernama  Yusuf yang dijual ke Mesir sebagi budak kemudian atas kuasa dan penyertaan Allah, Yusuf memperoleh hati majikannya (Pothipar – pegawai Firaun)  sehingga dipercayakan segala sesuatu kepadanya. Sampai akhirnya, Yusuf difitnah oleh istri Pothipar dan dijebloskan ke penjara (Kejadian 39).

Karena keahliannya menfsirkan mimpi , Yusuf akhirnya diangkat oleh Firaun sebagai orang kepercayaan (vizier of Pharaoh) setelah berhasil menafsirkan mimpi Firaun dan menyelamatkan Mesir dari bencana “7 tahun kelaparan” (Famine). Atas saran dari Yusuf, raja Firaun kemudian membuat lumbung (grain silo)  untuk menyimpan persedian makanan selama masa kelimpahan 7 tahun, sehingga ketika masa 7 tahun kelaparan tiba, Mesir terhindar dari kelaparan. Kisah lengkap tentang Yusuf dan bangsa Israel di Mesir dapat dibaca dalam Kejadian pasal 37-50. Atas jasa-jasa Yusuf, Firaun memberi kuasa kepada Yusuf untuk mengontrol dan mempercayakan kepadanya seluruh wilayah Mesir.

Setelah menjadi orang kepercayaan Firaun, Yusuf meminta ijin kepada Firaun untuk mengajak serta keluarganya dari Kanaan untuk tinggal di Mesir. Firaun memberi mereka sebuah tanah yang subur di Goshen (Kejadian 39) . Situs arkeologi ditemukan di Tel El Dab’a yang berlokasi sekitar 100 km dari Ibu Kota Kairo, 1 km sebelah selatan  Rushdi, 3 km sebelah barat As Samanah, 6 km sebelah utara Farkous dan 45 km sebelah barat Terusan Suez.Pada masa pemerintahan Dinasti ke-14 hingga abad ke 18 SM, nama Goshen berubah menjadi Avaris (sumber: Bietak 1996: 40). Pada periode kekuasaan Hykos, kota itu kembali berganti nama menjadi Rameses.





Cerita tentang keberadaan bangsa Israel di Mesir bukanlah isapan jempol belaka, arkeolog dan ahli sejarah berlomba-lomba melakukan penggalian demi menemukan bukti baik berupa peninggalan-peninggalan benda maupun tulisan. Berikut adalah beberapa temuan arkeolog yang mampu mendukung cerita Alkitab tentang Yusuf dan keberadaan bangsa Israel selama 430 tahun di Mesir.

a.  LUMBUNG (Grain Silo(s))

Ditemukan banyak Lumbung (grain silo) di beberbagai tempat di Mesir dan diperkirakan dibangun pada Dinasti ke-3 yaitu pada masa kekuasaan Firaun Djoser (Pharaoh Djoser) tahun 1885 SM. Salah satunya adalah lumbung yang ditemukan di Piramida Berundak di Saqqara dipercaya sebagai lumbung pertama yang dibuat oleh Yusuf,dengan cara membangun sebuah terowongan vertikal didalam piramida yang terbuat dari batu bata lumpur (mudbricks) yang kemudian dijadikan juga sebagi tempat menyimpan jasad Firaun Djoser.  
 
Kompleks Piramida berundak di Saqqara


Beberapa Lumbung yang ditemukan di Mesir
b. FAMINE STELA
Ditemukan “Famine Stele” atau batu tulis  di Pulau Saheil , Mesir yang menceritakan tentang tujuh tahun kekeringan dan kelaparan di Mesir pada masa Firaun Djoser . Juga diceritakan bahwa Imhoteb adalah orang yang berjasa menyelamatkan Mesir dan menafsirkan mimpi Firaun. Berdasarkan informasi dari batu tulis ini ,para ahli sejarah menyimpulkan bahwa kemungkinan besar  Imhoteb adalah Yusuf.

Famine Stele yang ditemukan di Pulau Saheil 

c.  PEMAKAMAN IBRANI DAN VILLA

Ditemukan sebuah villa  yang berukuran 10x12 meter yang dipercaya oleh arkeolog dan ahli sejarah merupakan tempat tinggal Yusuf, dimana model,floor plan dan desain interior villa tersebut (1 rumah dengan 4 kamar)  sangat identik dengan model rumah orang-orang Palestina/Israel pada jaman besi (Iron Age)  (Holladay 1992a) . Jika itu adalah kediaman Yusuf, maka dapat disimpulkan bahwa areal sekitar villa adalah merupakan rumah saudara-saudaranya juga (pemukiman Ibrani). Pernyataan ini didukung oleh penemuan tembikar (pottery) di area pemukiman yang hampir 20% adalah tembikar model Palestina pada zaman perunggu pertengahan (Mid Bronze Age). Dibagian selatan Villa adalah sebuah areal pemakaman yang dibangun dengan model makam Mesir namun gaya pemakaman Palestina. 50% kuburan laki-laki masih mempunyai senjata model Palestina didalamnya. Secara umum, orang-orang Palestina mengubur jasad bersama dengan senjata mereka.


Referensi :


 BERSAMBUNG...............

Monday, March 2, 2015

AKHIRNYA MEMBELI "DOMAIN".....

Jerijourneys.com - Hari ini Senin, 2 Maret 2015, adalah hari bersejarah bagi blog kesayangan “jerijourneys.blogspot.com” yang sebelumnya menggunakan embel-embel “blogspot” kini berganti menjadi (dot)com…yayy *potong kambing*!!Yap, proudly present: www.jerijourneys.com  #pentingyah? Ya pentinglah.

Proses memikirkan, mencari, bahkan kemudian berani memutuskan untuk membeli sebuah domain ini dimulai dengan pertanyaan sederhana “koq bisa ya blog  si A ,si B pake (dot) com?” “Gimana caranye?”. Dari pertanyaan “sederhana” ini timbul tindakan “sederhana” yaitu mulai mengetik di google search secara perlahan “cara mengganti blogspot menjadi com” sebuah keyword yang menunjukkan bahwa si pencari adalah seorang amatir kelas kakap. Setelah tombol detonate ENTER ditekan,  muncul lah ribuan entry yang terkait dengan si keyword, kemudian diklik dan mulai dipilih artikel yang cocok. Pada klik-kan kesekian, kursor berhenti disusul mulut mulai komat-kamit baca mantra , mata tak berkedip di salah satu artikel yang mengulas secara detil mengenai “proses membeli dan setting domain”. Nah , disini baru deh mulai manggut-manggut , ternyata istilah abcd(dot)com ,efgh(dot)net, ijklm(dot)org dan sejenisnya itu disebut DOMAIN. Tetapi dikarena saya bukan Web-Designer jadi agak tabu rasanya menuliskan defenisi Domain disini karena saya pun tidak begitu faham…… *buru-buru kabur sebelum ditimpuk sendal kayu buatan Jepang*

Dari artikel ini pula saya diarahkan menuju sebuah website web-hosting milik anak negeri, perkenalkan IDWEBHOST.COM  yang dapat memenuhi semua keperluan anda dalam hal pengelolaan website “domain,hosting” ato apalah. Recommended!

Setelah tahap pertama (diatas) selesai, tahap kedua tidak serta merta langsung membeli produk IDWEBHOST , malah saya mengetik keyword yang lain di google “keuntungan jika punya domain sendiri” – benar benar amatirrr. Setelah membaca artikel-artikel dari para blogger, saya akhirnya terkesan dengan satu artikel di www.blogodolar.com  yang membahas tentang keuntungan punya domain sendiri, disitu saya mulai sedih bimbang antara mempertahankan “blogspot(dot)com” atau membeli  (dot)com. Sok dramatis.

Tahap ketiga, keputusan membeli sudah 70% masih ada keraguan sebesar 30%. Saya kembali membuka IDWEBHOST sambil menimbang-nimbang. Akhirnya, diputuskan : BELI. Kemudian saya mengikuti prosedur beli domain jerijourneys(dot)com yang kebetulan tersedia senilai IDR 95.000 per tahun, kemudian menerima invoice dan membayar melalui bank transfer. Setelah 24 jam,saya mendapatkan email konfirmasi bahwa domain saya telah aktif. SELESAI. Kalau boleh jujur,sebenarnya inti daripada keputusan ini lebih didasari keinginan untuk mendapatkan "pendapatan" dari blog , atau istilah kerennya "monitize blog", tapi ini masih dalam tahap percobaan dan berharap seiring berjalan waktu, bisa sesuai dengan harapan. Amin.

Tahap setting webserver dan DNS segala macam dapat kita lakukan sendiri.Buktinya saya sukses melakukannya sendiri. Ini juga berkat para jenius diluar sana yang mau sharing pengetahuannya lewat artikel-artikel mereka di blog. Those are really helpful guys, thank you so much!! HAIL!


Jadi bagi teman-teman yang punya blog dan masih menggunakan FREE Domain, tidak ada salahnya dicoba membeli domain sendiri. Adapun keuntungannya dapat nanya sama om Google. Tapi yang pasti punya domain sendiri akan keliatan lebih keren dan professional. Punya domain sendiri otomatis ada resikonya,resikonya ya saya harus banyakin postingan biar gak rugi bayar haha..

Thursday, February 26, 2015

SINGAPORE TRIP (DAY 1) : CHANGI - BEDOK - HARBOUR FRONT- LITTLE INDIA

Jerijourneys.com - Ini adalah lanjutan cerita tentang perjalanan "backpacking" ke negara tetangga Singapura February tahun silam , selamat!! postingan mandek alias gak kelar-kelar...berharap tahun ini bisa kelar ! Lanjutt...

Setelah selesai dengan segala kerepotan di bandara cantik Changi, kami akhirnya bisa mendudukkan pantat di salah satu sudut stasiun MRT "bawah tanah". Kenapa saya sebut bawah tanah, ya karena memang dibawah tanah #hallah kira-kira 3x turun escalator dari Terminal 2. Yang membuat saya geleng-geleng #katrok adalah betapa hebatnya Singapura men-desain stasiun dan jalur MRT sedemikian rupa (men-cover seluruh Singapura) – maksut saya: ini stasiun ama  jalur MRT (walau gak semuanya) digali berapa meter dari permukaan tanah, ini pasti membutuhkan waktu yang lumayan lama pengerjaan proyeknya. (sok sok ngerti teknik).

Berpose di depan Bedok North Avenue
Tujuan selanjutnya adalah stasiun bus, BEDOK. Kenapa BEDOK? Begini penjelasannya: Saat trip Singapura rampung 70%, pertama kali yang muncul dalam benak saya adalah ,sampe di Changi trus kan mau ke hotel nih ceritenye, mau naik apa? Trus kan di map kan udah keliatan tuh Little India, emang segampang itu kesana pake MRT ? kan enggak, pasti ada jalurnya…*mutar otak*

RUTE MRT  
Yang gak suka baca map ato yang geograpinya gak lulus, pasti mau muntah liat nih gambar. This is MRT (Mass Rapid Transit) Map – atau peta rute MRT. Ini juga baru saya tau setelah mendengar cerita-cerita dari temen kalo di Singapura itu gak ada yang namanya "metro mini" yang seliweran dalam kota dan bikin macet dan risau (walopun sebenarnya ada bus cuman bedanya bus disini terjadwal dan teratur dan tidak berhenti di sembarang tempat,tidak ugal-ugalan apalagi naik trotoar) , gak ada becak, gak ada ojek yang bisa disetop dimanapun dan pergi kemanapun. Moda transportasi umum itu MRT. Langsung deh saya nyari info. Ya itu, info yang saya dapat : jika mau naik MRT harus pake kartu EZ-Link. Nah, jalur MRT dari Airport Changi adalah yang berwarna "ijo" endingnya di Joo-Koon.

Oke, Bedok atau lebih spesifik Bedok Bus Interchange adalah salah satu stasiun bus ter-ramai ke-2 di Singapura dari total kurang lebih 19 interchange/terminal. Lokasi stasiun Bedok tidak jauh dari bandara, gak sampe 10 menit jika naik MRT. Asal muasal pengen naik bus: Karena kami ingin memaksimalkan waktu, yang hanya 2 malam 3 hari, maka setelah sharing dengan tim seperjalanan (walopun raut muka mereka sedikit berubah setelah mendengar kata “naik bus” hehe) maka diputuskan untuk “sightseeing” dengan bus dari Bedok ke Harbour Front /Vivo City dengan hanya membayar seingat saya sekitar  S$ 2 per orang.  Yah murahlah, ketimbang harus nyewa mini-bus + guide untuk touring dengan waktu terbatassss, pasti ongkos mahal pulakk, bisa habis duit saya yang hanya 300 dolar Singapura. Bus yang digunakan bertingkat 2 kayak bus di London (sok pernah ke London) ,jadi kami memilih duduk di lantai 2 dan paling depan, agar bisa dengan leluasa menikmati view kota Singapura.

Wah ada cewek kece duduk di pojokan ( bukan yg baju merah ya)!!

Ngapain, bang??

sambil baca peta!!

Wendy , Ica
So kami mengambil bus nomer#30 dengan rute sbb : BEDOK – NEW UPPER CHANGI ROAD – CHANGI ROAD – GEYLANG ROAD – TG KATONG ROAD – DUNMAN ROAD – OLD AIRPORT ROAD – MOUNTBATTEN ROAD – FORT ROAD – MCE (lewatin underpass, trus lihat Singapore Flyer sekilas) - KEPPEL ROAD – TELOK BLANGAH – VIVO CITY


Rute Bus BEDOK - HARBOUR FRONT (Vivo City)
Jam menunjukkan pukul 3 ketika kami sampai di Vivo City, salah satu pusat perbelanjaan (Mall) di Harbour Front, deket dengan pulau Sentosa (Sentosa Island). Ada yang aneh, kami merasa agak lemes kurang tenaga . Usut punya usut, ternyata tangki belum diisi (baca:perut) sejak tiba tadi, maklum rada nerves dan bingung mikirin banyak hal. Setelah berkeliling Vivo City – kayak mall pada umumnyalah alias nothing was too special, dari segi layout dan barang-barang yang dijual hampir samalah kayak mall-mall di Indonesia (emang maunya kayak apa?)  bedanya barang-barangnya ber-price tag dolar Singapur dan jika di Rupiah-kan hampir sama juga harganya. Kami kemudian menuju Food Court di lantai paling atas untuk melepas lapar dan dahaga. Setelah berkeliling memilih dan mengamati jenis-jenis masakan yang dijual – yang ternyata disitu ada juga makanan ber-bau Indo, misalnya : Nasi Goreng Jakarta, Pecel dll. 

Setelah mondar-mandir gak jelas, akhirnya kami memilih kedai yang menjual semacam nasi campur persis kayak Warung Prasmanan Bu Tinuk (asli Jowo Timur) tapi yang jaga si mata sipit dengan logat Singlish. Gak tau tuh jenis-jenis makanannya, yang saya tahu hanya “nasi lemak” setelah dimakan ternyata “nasi uduk” hadehh. So kami membayar sekitar $3 dolar Singapur untuk makanan + S$ 3 untuk minuman. Agak mahal untuk kantong kami (budget terbatas), tapi mau apa rata-rata harga makanan di Singapur ya segitu.
"acara maksi di foodcourt Vivo City"

"Entah, lagi ngobrolin apa nih"
Setelah selesai makan, kami bergegas untuk segera meluncur kepenginapan (yang sudah kami pesan melalui Booking.com gak tanggung tanggung 3 bulan sebelumnya) - Kawan Hostel di Little India. Dari Harbour Front (Vivo City) ke Little India,  sangat mudah karena hanya melalui satu rute MRT (gak perlu keliling 10x di MRT  interchange) rute ungu : NORTH EAST LINE – NE  (warnaungu – lihat peta MRT) , Little India sendiri terletak di NE7 (lihat peta).

Suasana MRT


Semakin deket dengan Little India semakin banyak penumpang MRT berwajah India. Tapi gak salah, soalnya saya sempat mencari informasi tentang Little India di Google dan memang ya begitulah informasinya, Little India adalah kompleksnya orang India di Singapura. 

Sekitar pukul 4, kami tiba di NE7 LITLLE INDIA , dan segera keluar dari MRT kemudian mengikuti petunjuk arah menuju Exit. Setelah berjalan kaki dengan jarak yang lumayan maka sekali naik tangga lagi kami menginjakkan kaki di Little India, maka fix hampir 100% orang-orang yang berseliweran adalah pure orang India. Gosh! 

Tadahh!! Kami persis muncul di deket sebuah pasar kalo gak salah di  Buffalo Road St (Jalan Kebo) dan..oh my…look at this! Baru deh nyadar, this an absolute Indian settlement. Di setiap sudut area ini semua India, dari pakaian, kulit, bau dan apalah…..No Racist Please!!

Etnis India, menduduki posisi ke 3 atau menyumbang kurang lebih sekitar 9% dari total populasi Singapura menurut data 2013, dari beberapa etnis di Singapura. Etnis dengan populasi terbanyak adalah China kemudian Melayu. Pada masa pre-kolonial , jika kita melihat sejarah pada abad ke-8  bisa disimpulkan bahwa India memegang peran penting dalam peradaban/sejarah Asia Tenggara, ketika pada masa itu orang-orang India datang untuk berdagang, kemudian menyebarkan filosfi agama mereka yaitu Hindu-Buddha. Pada masa kejayaan Sriwijaya, penyebaran agama Hindu-Buddha begitu pesat di Asia Tenggara.

"Sharukh Khan ketangkep Paparazzi lagi ngobrol ama Amitha Bachan"
@Little India
Pada masa penjajahan Inggris di Asia, khusunya di India dan Singapura, ada banyak orang India yang dibawa untuk dipekerjakan sebagai buruh kasar maupun sebagai tentara. Kemudian pada pertengahan abada ke-20 orang-orang India mulai membangun pemukiman  di Singapura. Namun jangan salah ,bagi sebagian orang India menjadi permanen residen di Singapura tidak segampang yang kita pikirkan . Para pekerja tanpa skill (unskilled workers) hanya diberikan waktu maksimum 2 tahun untuk berada di Singapura dengan “Work Permit”, dan tidak akan mendapatkan hak untuk mengajukan “Permanen Residen”  sedangkan bagi sebagian etnis India yang –yah istilahnya- para professional, wirausahawan yang mempunyai pendapatan tinggi secara otomatis dijamin untuk mendapatkan perpanjangan “Employment Pass” dan bahkan diberikan hak untuk mengajukan permohonan untuk menjadi “Singapore Permanent Resident”. Sangat panjang perjalanan ataupun perjuangan etnis India di Singapura jika kita ingin membahas lebih detail, tapi ini hanya sekilas saja. Menurut saya sih kebijakan ini, walopun agak sedikit berbau diskriminasi tapi memang harus demikian mengingat Singapura bukanlah negara dengan wilayah yang luas , jadi populasi harus diperhitungkan jangan sampe over-population istilahnya (sok ngerti ilmu sosiologi)..

Namun pada dasarnya, keberadaan etnis India di Singapura juga tidak bisa dipandang sebelah mata karena mereka juga telah sangat berpartisipasi dan berkontribusi banyak dalam sejarah Singapura misalnya di bidang Politik, sebut saja : C.V Devan Nair (Presiden ke-3 Singapura), S.R Nathan (Presiden ke-6 Singapura) dan  Balaji Sadasivan (ex-Menteri Luar Negeri Singapura) yang kesemuanya adalah ber-darah India.

Selesai dengan ke-bengong-an kami, melihat begitu banyaknya India-he disini, kami kembali dibingungkan untuk mencari Dunlop St (Jalan Dunlop) ,lokasi hostel kami. Buset, kemana nih sekarang? gumam saya dalam hati. Yang paling nyesek adalah ketika saya tahu bahwa jaringan telkomsel saya bener-bener tidak ada signal alias completely dead! Otomatis gak bisa ngapa-ngapain ataupun akses google map – walaupun saya tau biaya internetan pasti akan lebih mahal karena kena roaming – tim seperjalanan yang lain gak ada masalah tuh dengan jaringannya,malahan dilayarnya pada muncul SING-TEL gitu (tapi gak ada pulsa juga hahaha), koq saya sendiri yang matek ya. Misteri itu belum terpecahkan sampai sekarang. #tsahhh…sudahlahhhh.

Dunlop Street

Penampakan Dunlop Street di waktu pagi


Kawan Hostel yang cantik dan menawan :D
Berbekal map yang saya colong di bandara tadi kami mencoba mereka posisi Dunlop St, ternyata masih sekitar 10 menit perjalanan jauhnya dari lokasi kami berada. Untung gak bawa barang sekontener, bisa mati gaya. Sejauh mata memandang , memang gak satupun taxi maupun angkot terlihat.

Kawan Hostel adalah salah satu diantara pilihan (seperti dipaparkan pada cerita di Singapore Trip part 1) yang lebih kompromi dengan bujet , cocok untuk kami ber-4 dengan private bathroom (hot & cold pula). Harga per orang per malam adalah USS$30 atau sekitar Rp 285,000, sarapan self service (buat sendiri) dengan hanya ada roti dan selai plus pemanggangnya. Teh dan kopi sudah disiapkan, tinggal seduh dengan airpanas dari termos. Yah , okelahhh….
makan pagi.......


Artinya : abis makan, dicuci tuh piring, trus balikin ke rak

tersinggung......koq dalam bahasa Indonesia pemberitahuannya..artinya???
Setelah ber-istirahat beberapa saat,  kami segera ngantri di pintu kamar mandi untuk membersihkan diri kemudian memakai pakaian ter-cantik masing-masing dan segera menuju kondangan MUSTAFA CENTER yang ternyata hanya sekitar 10 sampai 15 menit dengan berjalan kaki, masih sekitaran Little India.

MUSTAFA CENTER adalah salah satu pusat perbelanjaan 24 jam di Singapura lokasinya di Syed Alwi Road. Menjual berbagai macam pakaian, elektronik, parfume, cokelat dsb. Jadi yang suka shopping, coba aja ke sini, kalo saya sih enggak ya karena memang gak punya duit . Saya waktu itu cuman beli International Adaptor seharga $3 (ga tau mau diapain - ohh gara-gara di hostel gak bisa ngecharge karena ga ada adaptor sekaligus untuk persiapan travelling berikutnya kali- Amin) , dompet (kayaknya sih kulit asli) $12 (udh setahun masih awet), ya belanja disini lumayanlah barang-barangnya juga termasuk bagus-bagus koq.

Selesai berbelanja, waktunya pulang tapi mau nyari makan dulu. Kami sibuk mencari tempat yang cocok untuk makan, akhirnya terdampar di salah satu restoran DIM SUM yang direkomendasikan oleh teman kami di Singapura meskipun gak jadi ketemuan. Nama restorannya : SWEE CHOON atao apalah ...dimana kami kebingungan memahami menu yang semuanya dalam huruf kanji mandarin. Untuk sementara bahasa Inggris kami “mati” disini. Ditambah si pelayan gak bisa bahasa Inggris hanya memakai bahasa tubuh.  Untung menunya pake gambar, kalo gak, ga tau deh ending-nya gimana nih acara makan malam. Yang jelas, setelah semua pesanan disajikan kami hanya bisa berpandangan sambil menahan tawa. Semua nampaknya agak-agak shock dengan pesanan masing-masing.

Sekitar pukul 10an kami kembali ke hostel dengan keluhan seragam "betis pegel" gara-gara jalan kaki. Bagaimana tidak, 99% aktivitas disini melibatkan jalan kaki, dimulai di Bandara, stasiun bus Bedok, yang paling gila di MRT interchange , Little India, Mustafa Center, wihh..kapok..

Walo begitu, lumayan happy-lah bisa jalan2 di Singapura. That's the story for today,hari pertama selesai , kita tutup. Tok,tok,tok!

ONE DAY TRIP - NUSA PENIDA

Saturday, 17th Jun 2017 Setelah sekian lama 'blog' ini mati suri akhirnya 'mood'datang juga untuk melanjutkan cora...